This blog is one of my efforts to publish most of my ideas which are considered to be weird, uncoventional and controversial by my environment. Everybody needs a dark and personal tunnel for their deepest and darkest thought anyway...Say what you want to say here and i will be glad to read it

Thursday, April 14, 2005

I hear the ticking of the clock
I'm lying here, the room's pitch dark
I wonder where you are tonight
No answer on the telephone
And the night goes by so very slow
Oh I hope that it won't end though
Alone

Til now I always got by on my own
I never really cared until I met you
And now it chills me to the bone
How do I get you alone
How do I get you alone
You don't know how long i have wanted t
o touch your lips and hold you tight
You don't know how long I have waited
and I was going to tell you tonight
But the secret is still my own
and my love for you is still unknown
Alone

Til now I always got by on my own
I never really cared until I met you
And now it chills me to the bone
How do I get you alone
How do I get you alone
How do I get you alone
How do I get you alone
Alone
Alone

Saturday, April 09, 2005

Medulla Oblongata Part 6

Aku benci perpisahan. Aku terbiasa merasa benci ketika ditinggalkan. Tapi yang sekarang justru aku yang harus menatap kedepan dan mengucap salam perpisahan. Aku tak mau anakku mengakui dosa sebagai jalan yang tak terelakkan. Aku tak mau istriku hanya bisa terdiam tak mampu menahan beban yang tak terpikulkan.
Ia beringsut menuju ke beranda depan mencari udara segar. Ketika aku menoleh ke samping ranjang, kulihat bocah itu bermain gasing tetapi matanya menatapku tanpa perasaan.
Kapan kah kau datang tanpa pusing menyerang?
“Bukan aku yang membawanya. Aku tak tahu apa-apa.” Katanya sambil menyeka ingus yang menetes ke lantai.
Lho kok dia tahu aku berbisik dalam hati seperti itu?
“Sumpah bukan aku.”
Dan ketika sakit yang sama mulai menajalar disekujur tubuhku aku berpikir aku harus segera mengambil keputusan. Mataku tertumbuk pada pisau buah yang tergeletak di samping piring berisi buah-buahan murah pemberian teman-teman.
Sekarang!
“Jangan!” Ucap si bocah pelan sambil memegang tali gasing.
Aku sudah tak tahan!
“Tolong jangan lakukan!” Katanya sambil memegang telapak kakiku.
Tahu apa kamu?
Mataku sudah pedih berkunang-kunang. Kugigit bibir bawahku keras-keras. Saat kurasa asin darah dari bibirku sendiri, anehnya sakitku mulai berkurang.
Sekarang!
“Tolong jangan lakukan! Kau bisa mati nanti!” Kali ini sambil berteriak dan mengguncang-guncang kaki kananku.
Kuraih pisau buah itu dengan tangan kiriku dan mulai kusayat nadiku pelan-pelan. Saat kulit tanganku mulai tergores, ada perasaan nyaman yang belum pernah kurasakan dan sakit kepalaku mulai reda perlahan-lahan. Semakin keras kusayatkan pisau buah ke nadi tangan kananku, semakin aku mengingat nyaman dan harum bau candu yang dioles di rokok kretek murahan saat aku lari dari rumah bapakku dulu.
Saat darah semakin keras mengucur, sakit kepalaku mulai benar-benar hilang. Sejuk kesiur angin kurasakan menerpa tubuhku. Benar-benar lega dan nyaman. Rupanya ini obat yang selama ini kubutuhkan. Sialan kenapa aku harus menunggu berhari-hari kalau sesederhana ini pemecahannya? Aku mulai duduk. Ingin sekali aku segera memberitahu semua orang tentang penemuanku ini. Bahwa aku telah kembali seperti dulu lagi. Ingin segera kuludahi dokter yang membuatku menjadi bahan diskusi pelajaran dengan murid-muridnya sekalian.
Lho kok aku ada dua? Aku ini siapa? Siapa ini yang terbaring dengan selimut penuh darah? Bahkan pisau buah masih tergenggam di tangannya?
Kutundukkan muka dan kulihat genangan darah di bawah ranjang.
Sudah matikah aku?
Kutatap wajah si bocah yang masih memegangi ujung ranjang. Matanya masih sajar datar.
“Sudah kubilang jangan. Jadi hantu kau sekarang.”
Tidak aku belum mati.Aku ingin melihat dua berlianku beranjak dewasa. Aku ingin menikahkan mereka sendiri tanpa wali hakim.
“Mana bisa?” Katanya sambil beranjak pergi dengan bekas telapak kakinya yang penuh darah. Bayang-bayang tubuhnya mulai tampak legam disinar matahari jam 12 siang.
Sayup-sayup kudengar tangis istriku. Ia bersimpuh di kaki seseorang yang sudah sangat renta tapi masih kuingat tajam kata-katanya. Pakdheku datang membawa buah semangka dan petai cina.
“Aku tahu si Romli sakit dari teman sekantornya yang kemarin menikah dengan anak tetangga di desa. Katanya sakitnya betul-betul gawat. Begitu aku mendengar berita itu aku langsung naik bis kemari. Dari mantu tetanggaku itu pula aku dapat alamat rumah sakit ini.”
“Ada tumor di otaknya. Harus dioperasi kepalanya.”
“Mahalkah biayanya?”
“Dua puluh lima sampai tiga puluh juta katanya.” Katanya sambil terisak-isak.
“Darimana kami bisa mendapat uang sebanyak itu?”
Aku betul-betul malu mendengar istriku mengeluh pada orang yang pernah kutinggalkan begitu saja dua puluh lima tahun yang lalu. Dua puluh lima tahun tanpa secarik surat, telpon atau sedikitpun kabar.
“Kamu jangan khawatir nduk. Di belakang rumah ada I hektar tanah yang bisa kujual cepat untuk biaya operasi. Dulu aku ingin membangun masjid disitu sebagai bekalku kalau aku mati nanti. Sekarang, biar tanah itu buat Romli saja. Kalau masih kurang, ada kuda-kuda penarik delman sewaan yang bisa kujual. Jangan khawatir. Mana dokternya, aku ingin bicara supaya Romli bisa dioperasi secepatnya.”
Sesalku mendesak relung hati bagai belati membelah tajam kesadaran. Kutoleh kiri kanan. Anak itu berdiri dekat kursi putih depan kamar. Matanya menatap tajam padaku sambil tangannya memain-mainkan pisau buah yang tadi kugunakan. Ia beranjak pergi. Bayang-bayang tubuhnya semakin lama semakin kelam.
Andai saja aku sedikit bertahan.

15 Februari 2003

Medulla Oblongata Part 5

Lamat-lamat kudengar diskusi istriku dengan dokter disudut ruangan. Aku mulai terjaga dan aku mau dengar apa yang mereka bicarakan diam-diam. Kulirik jam dinding menunjuk jam 10 pagi. Astaga! Sudah hampir 24 jam aku tak sadarkan diri. Penat dan badan yang lengket sangat menjengkelkan. Tapi kutahan. Sambil tetap terpejam aku pasang telinga baik-baik.
“Saya ingin ibu tahu hasil diskusi kami atas penyakit yang diderita suami ibu.”
“Dari hasil rontgen dan gejala-gejala yang nampak, kami berkesimpulan bahwa…”
Sejenak mereka terdiam.
“Bahwa apa? Katakan saja dok. Saya siap mendengarnya.”
Istriku memang selalu begitu. Selalu ingin terlihat kuat walaupun hatinya hancur.
“Ada tumor di otak suami ibu.”
Menangislah dik, jangan kau tahan-tahan seperti itu.
“Bisa disembuhkan dengan operasi.”
“Biayanya sekitar dua puluh lima sampai tiga puluh juta Bu. Dengan asuransi, ibu mungkin hanya tinggal membayar sepertiganya dan membiayai perawatan sesudah operasi.”
Ruangan mendadak hening. Semakin hening ketika yang terdengar hanya ketukan sepatu dokter meninggalkan istriku yang diam dengan mata yang basah. Aku tak mampu lagi berpikir. Dalam diamku aku ingin sekali memeluknya. Tapi apa guna pelukku jika itu hanya menimbulkan kenangan mendalam saat aku benar benar hilang. Kami telah bersama begitu lama. Begitu lama hingga tak sempat terlintas bahwa suatu saat kami mungkin harus berpisah.
Tujuh belas tahun yang lalu aku kenal dia sebagai perempuan yang benar-benar berbeda diantara para wts lokaliasasi Jarak di Surabaya. Ia benar-benar berbeda karena ia hanya berdandan seadanya diantara geliat bedak dan parfum murahan. Ia lebih memilih memakai kaos dan blue jeans daripada memakai rok mini dengan belahan dua belas senti yang memang ampuh menarik para kumbang yang menggenggam sebotol bir hitam. Ia selalu diam menatap acara televisi sambil menunggu pelanggan daripada duduk di emperan Wisma Anggrek. Ia tak minum bir Bintang untuk menghilangkan rasa malu saat telanjang. Mungkin itu yang membuatnya dilupakan. Satu tamu dalam sehari sudah terlalu banyak buatnya.
Aku mengamatinya diam-diam semenjak aku ikut menjadi anak buah kapal barang. Setiap kami singgah di Surabaya untuk menurunkan barang, beberapa anak buah kapal selalu tertawa-tawa sambil menyanyikan lagu plesetan “…Tanjung Perak, tepi laut. Siapa suka boleh ikut…” menjadi “…Tanjung Perak tepi Jarak… Siapa napsu boleh ikut…Huahahaha” Di Jarak lah kami mencari cinta dan perhatian dengan harga terjangkau. Bagi anak buah kapal seperti aku, Dolly berarti sebulan gaji.
Ratmi namanya. Aku kenal dia karena suatu hari saat aku datang ke Jarak di malam minggu jam setengah satu, semua kamar sudah terisi. Hanya tinggal beberapa wadam dan perempuan usia empat puluhan yang menunggu laki-laki bokek yang benar-benar mabuk untuk ditipu.
“Kamu ndak ngamar tah?”
“Sudah tadi.”
“Trus?”
“Yo wis. Diem saja ndik sini.”
“Kok ndak keluar-keluar gitu.”
“Mau rokok?”
“Ndak makasih.”
“Bir?”
“Ndak makasih. Es jeruk saja.”
“Kenapa?”
“Ya ndak seneng aja.”
Entah kenapa aku lupa untuk mengajaknya ngamar sampai-sampai aku disindir seorang makelar,
“Kalau kere jangan kesini mas! Beli sabun saja sana!”
Dan sejak itu aku dan Ratmi selalu urunan untuk membayar kencan per jam walaupun tak pernah ada persetubuhan. Sering sebelum berjalan-jalan di Siola, kami harus urunan untuk membayar seharga booking tiga jam. Hanya dengan Ratmi aku tak usah minum berbotol-botol tangkur supaya dibilang jantan. Kencan kami adalah perdebatan tanpa ujung tentang siapa yang lebih hebat diantara Ucok Harahap dan Rhoma Irama di Soto Ambengan, genggaman tangan sepanjang lorong pasar Wonokromo dan tertawa tergelak-gelak saat ada razia polisi di Jalan Diponegoro. Walau kami tertangkap dan harus menginap sehari di tahanan Polsek, kami terus tertawa cekikikan. Didepan bu hakim tindak pidana ringan, aku jujur berkata kalau kami sedang bermain ular tangga di belakang kios tambal ban milik seorang langganan Ratmi sehabis nonton film India. Hasilnya aku ditendang polisi, diumpat bagai binatang dan dihina bagai seonggok kotoran. Katanya aku sudah menghina pengadilan.
“Mas Romli, nanti mampir beli sate depan TVRI yuk. Aku tadi disuruh nglayani pak Kapolsek. Lumayan. Sudah ndak disidang, disangoni lagi.”
Sudah lebih dari enam tahun Ratmi disitu sejak ia datang di Surabaya untuk pertama kali dan ditipu seorang sopir bis. Ia dijanjikan akan diantar ke Rungkut menjadi pegawai di pabrik plasti namun berakhir di sebuah rumah kontrakan. Enam hari ia disekap dan diperkosa berulang kali. Setelah sang sopir bosan ia di jual murah ke Bu Seno, sang mucikari veteran dari Jarak saat harapannya telah pergi.
Ia pergi dari tangsi karena bapaknya hanyalah seorang sersan angkatan darat yang selalu duduk melamun di depan TK PERSIT Kartika Chandra sejak pulang menumpas gerakan Klandestein di Timor Timur. Kata seorang tetangga, bapaknya si Ratmi itu menembak sebuah gubuk di tengah ladang yang disangka tempat persembunyian separatis dengan sebuah peluncur granat berkali-kali. Saat ia dengan langkah bangga menyapu reruntuhan dengan tembakan senapan otomatis, ia menginjak potongan paha yang terlalu kecil untuk ukuran orang dewasa dan sobekan boneka kain. Ia telah keliru menembak sebuah gubuk berisi ibu dengan tiga orang anaknya yang sedang tidur pulas.
Ratmi tak pernah dendam pada laki-laki. Ia telah berjanji untuk tidak mengutuki. Ia menolak untuk menyesali. Ia terlampau lelah untuk menangisi. Ia hanya percaya bahwa derita itu tidak untuk selamanya. Ia salahkan semua orang yang telah menyediakan waktu, tempat dan ranjang untuk menampung hasrat yang tiada henti. Ia salahkan semua istri yang lalai berdandan karena menyangka berdandan hanya bagi perawan yang belum laku. Ia salahkan semua ulama yang tak kunjung berhenti berbicara tentang nafsu yang bisa hilang dengan berpuasa. Para laki-laki itu setiap hari berpuasa. Mereka bukan orang kaya dan istri mereka tak pandai menawan perasaan. Ia salahkan semua tentara dan polisi yang melindungi para mucikari hanya untuk uang keamanan dan layanan gratis tiap pekan. Dan datangnya seorang laki-laki yang siap menerimanya apapun dosanya adalah mimpi yang terlampau mahal untuk dinikmati. Sore itu setelah Ratmi selesai melayani seorang pegawai PEMDA yang mengaku istrinya tengah hamil tua, aku beranikan diri untuk melamarnya. Dari luar kamar mandi, aku berbisik,
“Rat, besok mau nggak kamu nikah sama aku?”
Sunyi. Suara gayung bersambut kecipak air mendadak berhenti.
Kuulangi,
“Rat, kira-kira besok kalau aku ngajak kamu nikah, mau nggak kamu nikah sama aku?”
Senyap.
Dan sayup-sayup diantara suara pancuran air dari kran, kudengar ada isakan tertahan. Kuberanikan membuka pintu kamar mandi dan disana kulihat Ratmi menangis tersedu-sedu diatas wc jongkok. Dengan senyum setengah tidak percaya ia berkata terbata-bata,
“Mengapa tidak sore ini saja?”
Setiap Ratmi bicara ingin berhenti melacur bu Seno selalu menunjukkan sederet angka hutang. Entah angka sepanjang itu asalnya dari mana. Yang jelas semua barang yang ia dapat dari wanita gemuk yang selalu merokok kretek tiga bungkus sehari itu harganya selalu tiga kali lipat dari harga biasa. Kalau Ratmi tak membayar lunas, ia harus berhadapan dengan seorang kapten marinir yang tiap minggu datang dengan pakaian preman bersama beberapa anak buahnya dan minta dilayani gratisan.
Sore itu kami berkemas diam-diam dan kemudian kami melarikan diri dari Bu Seno, germo Wisma Anggrek. Kami pergi ke Banyuwangi, tempat paling jauh yang bisa kami jangkau dengan sisa uang di kantong. Kami menikah dan tahun-tahun bersamanya berlalu begitu cepat. Sekali dua Ratmi secara kebetulan bertemu dengan salah satu pelanggannya. Saat sang pelanggan bilang kepada semua tetangga dan teman bahwa ia seorang mantan penghuni lokalisasi, kami pun segera pindah ke daerah pinggiran diam-diam.

Medulla Oblongata Part 4

Tekanan darahku normal. Aku tak punya kadar kolesterol yang berlebihan. Aku tak pernah mengalami cedera di kepala. Pendek kata, semua baik-baik saja kata dokter. Itulah anehnya. Sehari dua hari aku masih berusaha mencerna apa yang mereka diskusikan. Tapi ketika dokter membawa beberapa anak muda yang juga berbaju putih dan mendiskusikan penyakit di kepalaku, tak dapat aku menahan kesabaran lebih lama.
“Aku bukan materi pelajaranmu!”
“Maaf pak. Aku ingin mereka belajar.”
“Aku bukan bahan diskusimu. Aku pasienmu!”
“Maaf Pak. Kita sedang mencari penyakit apa sebenarnya yang Bapak derita.”
“Aku sudah jual semua yang bisa aku jual dan kau bilang kalian para dokter tidak tahu apa yang mengamuk di kepalaku?”
“Maaf Pak. Kami sudah berusaha keras.”
Beranikah kalian mengajak mahasiswa mendiskusikan penyakit yang di derita Pak Bupati atau Pak Kapolres di depan hidung mereka?
Kutengok sebelah kiri ranjangku. Anak itu sudah bermain lagi dengan kereta yang ia buat dari kulit jeruk bali. Aku melihat anak itu mulai ada bayangannya, cuma samar-samar walaupun matahari terik menerobos jendela kamar.
“Darimana kau dapat kulit jeruk bali?”
“Pakdheku membeli jeruk bali dari pasar kecamatan. Aku minta semua kulitnya untuk kereta-keretaan.”
“Enak rasanya?”
“Aku boleh menghabiskan 3 jeruk bali yang tersisa jika aku tak pernah telat sembahyang.”
Mulai ada denyut-denyut diantara kedua mataku tepat diujung atas hidungku. Pertanda yang sama. Sebentar lagi aku akan mengucap salam pada kesadaran. Aku tak peduli lagi dengan serombongan calon-calon dokter yang melihat heran sambil berbisik-bisik kearahku.
“Sakit kepala yang hebat kadang menimbulkan halusinasi yang dalam pada penderitanya. Kalian bisa mengamati dan mencatatnya dengan seksama.”
Persetan dengan kalian! Sialan! Denyut ini mulai merambat naik ke ubun-ubun dan kalian hanya bisa berdiskusi?
Dan ketika semua telah berubah menjadi gelap, aku merasa terbaring di sebuah lantai keras. Aku bingung. Dimana sih aku ini? Kualihkan pandang ke sebelah kananku dan kulihat ada seorang tua bersila dengan sebuah buku tebal dipangkuannya. Pakdhe. Tidak salah lagi. Itu pakdheku. Pakdhe yang seumur hidupnya tidur di lantai beralaskan tikar walaupun ia cukup kaya untuk membeli sebuah ranjang dan kasur yang empuk. Tidur beralas tikar di lantai keras akan selalu mengingatkannya akan hidup sesudah mati katanya. Karena seperti itulah ranjang kita nantinya. Kasur hanya akan menunda kesadaran kita akan rumah kedua rupanya. Bahkan dengan cara tidur seperti itu, rumah kita akan aman karena kita bisa merasa derap langkah orang berjalan di sekeliling kita.
Beliau diam menatap kosong ke halaman luar. Dari pintu kamar itu, masuklah budheku membawa secangkir minuman. Kopi pahit pasti.
“Pak, janganlah terlalu dipikir si Romli itu. Ini kopimu. Minumlah.”
“Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada dia.”
“Ia kan sudah dewasa. Ia bisa menjaga dirinya sendiri.”
“Ia memang sudah besar. Tapi otaknya masih tumpul. Bapaknya terlalu sibuk dengan ledhek-ledheknya ketimbang mengajarinya agama. Ibunya tak bisa berbuat apa-apa. Dan aku hanya bisa menuntunnya membaca alif ba ta.”
“Lho bisa mengaji kan sudah lumayan.”
“Buat apa kalau tak bisa mendapat maknanya.”
“Ia toh bukan anak kita Pak.”
“Kau mau ia di tuntun setan yang menunggunya di perempatan?”
Setelah aku tahu ulah bapakku, memang hanya Pakdheku yang setia menungguku dengan sapu terhunus tiap menjelang waktu sholat Ashar. Kalau aku terlambat pulang karena bermain layang-layang, melihat sapu itu saja aku sudah gemetaran. Walaupun nyatanya beliau tidak pernah benar-benar pernah memukulku. Waktu aku mencuri buah kelapa tetangga, justru beliau yang marah dan memohon maaf berkali-kali atas kesalahanku. Aku harus memohon maaf dan bangun tiap malam untuk sholat taubat sepuluh rokaat. Waktu aku berkelahi dengan temanku sampai temanku itu harus dirawat di rumah pak Mantri, ia menangis diam-diam saat sholat malam. Hanya beliau yang menangis untukku. Saat aku ketahuan mengintip pembantuku yang mandi di kali, ia membelikanku mas kawin seekor kerbau dan menyuruhku menikah dengan pembantuku. Katanya, aku sudah menzinahinya dengan mataku.
Aku hanya ingin tahu perempuan tapi aku tak mau menikah dengan seorang pembantu. Kutinggalkan rumah pakdheku diam-diam menuju ke kota dan kukembalikan Quran pemberiannya disamping tubuhnya yang tertidur pulas. Kutinggalkan pakdheku, Quran dan sholat sejak saat itu.
“Kalian bisa melihat bagaimana sakit kepala yang hebat mulai menjalar pada tubuh pasien ini sehingga terlihat simpul-simpul otot badannya menegang.”
“Saat ini secara kronologis anda bisa mengamati dengan seksama saat kesadaran penderita mulai hilang secara perlahan, tubuh yang mengejang sampai pasien benar-benar pingsan.”
“Terima kasih. Saya kira sampai disini dulu pelajaran kita hari ini. Tolong resume kuliah hari ini dikumpulkan di meja saya paling lambat besok pukul 9 pagi. Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.”

Medulla Oblongata Part 3

Tak banyak yang bisa kukerjakan. Aku cuma diam diantar menembus tembok-tembok ruang dan waktu yang tak bisa kuhindari. Seakan-akan kepalaku ini di restart berulang-ulang ketika perjalananku hampir kembali.
Selasa dua belas hari yang lalu anak kecil berjambul itu muncul kembali ketika benang morfin menarik badan layang-layangku ke angkasa. Tiba-tiba aku sudah berada di depan sebuah kamar hotel kelas melati. Banyak pasangan dengan tawa menggiriskan seperti yang pernah kudengar di depan kamar bapakku berjalan terburu-buru.
Mengapa aku bisa disini?
Kesiur angin membawaku ke sebuah kamar berantakan. Ya Tuhan itu Ami kecilku. Berlianku yang nomor satu. Ia sibuk merapikan bajunya dan di ujung ranjang berantakan ada seorang bapak 50 tahunan bercelana panjang tanpa kemeja duduk menghitung uang.
“Ini uang panjarnya. Aku ambil model yang paling murah saja ya.”
Mengapa kaulakukan itu Ami?
“Katanya tadi mau bayar lunas.”
“Nanti saja sisanya. Saat kau temani aku saat rapat dinas di Surabaya aku lunasi semua.
Kurang ajar! Setan!
“Kau cantik sekali. Ini pertama aku bercinta dengan bekas muridku sendiri. Sayang kau kurang pengalaman. Baru sekali ini ya?”
Kulihat Ami hanya diam terpaku. Dan saat bapak itu pergi sambil tersenyum cengengesan, kulihat ada air mata tertahan di pelupuk matanya. Saat itu aku hanya berdoa semoga bumi ini merekah dan menelan bulat-bulat tubuhku yang dusta ini. Ini hanya mimpi. Hanya mimpi.
Aku terbangun saat dokter telah memasang slang pernafasan. Ia bilang aku telah “hilang” beberapa kali dalam dua jam terakhir. Tapi semua lega aku tak hilang selama-lamanya. Istriku nampak semakin cemas, pucat dan lelah. Ami datang dengan nafas tersengal-sengal masih dengan seragam pameran, dengan baju yang sama dengan baju yang ia pakai di mimpiku.
“Bapak jangan banyak berpikir soal obat. Tadi ada mantan guru SMP ku yang beli mobil di tempatku dan aku dapat komisi seratus lima puluh ribu.”
Aku hilang lagi selama dua hari.

Medulla Oblongata Part 2

Aku tahu ada yang berbeda dengan pusing yang pernah kualami sebelumnya. Kini sang pusing tak datang sendirian. Sudah sepuluh hari ini aku bisa merasakan kedatangannya dengan kehadiran seorang anak laki-laki disampingku. Tak ada yang melihatnya kapan ia datang. Bahkan istriku yang selalu menunggu disampingku tak juga tahu. Sengaja tak kuberitahu karena hanya akan memberatkan pikirannya yang sudah tak keruan. Ia yang dulu sedikit gemuk (satu-satunya kritik yang tak berani kulontarkan karena aku takut ia akan kehilangan konsentrasi waktu memasak di dapur) kini tirus dan cepat cemas.
Anak itu hanya berdiri diam diujung tempat tidur. Tak disedotnya ingus yang berleleran dihidungnya. Bajunya berdebu dengan layang-layang tergantung dipundaknya. Matanya besar berkedip-kedip seperti melihat matahari. Kepalanya botak dengan sedikit kuncung mirip Ronaldo. Persis gambaran anak desa yang pulang terbirit-birit di waktu magrib karena sudah dibentak emaknya yang memegang gagang sapu. Yang aku heran, kakinya yang tak beralas menapak lantai marmer rumah sakit yang mengkilap tapi tak kulihat bayang-bayang dibelakangnya.
Ketika ia sudah mulai muncul, aku mulai bersiap akan datangnya gelombang yang akan mengamuk dan menenggelamkanku di pusarannya yang kelam. Kata dokter, hanya sedikit morfin yang bisa membuatku tidur pulas ketika tubuhku mulai menegang tak keruan. Hanya itu. Dan ketika ku terbangun, anak itu masih ada disitu dan kemudian beranjak pergi. Tetap tanpa bayang-bayang. 7 hari yang lalu aku sempat bertanya,
“Kamu siapa?”
“Aku tak berani pulang. Sudah tiga hari ini aku berhenti mengaji.”
“Mengapa?”
“Aku bosan.”
Itu saja yang sempat kami perbincangkan. Selanjutnya sang pusingpun muncul begitu saja tak terelakkan seperti gelontoran air coklat dari pintu Dam Jagir yang menghanyutkan gubuk-gubuk pelacur-pelacur veteran di bantaran Kali Mas.
Dalam bawah sadarku aku bersama anak kecil yang ingusnya terus menerus berleleran bertemu dengan almarhum bapakku, seorang lurah bijak yang menghabiskan malam-malamnya dibawah kelebat semerbak parfum murahan ketiak para ledhek dan teriakan-teriakan menjilat dari para bawahannya. Suatu pagi ketika bau nafasnya yang penuh aroma tuak masih tercium tajam, ia berpesan,
“Nanti siang sampaikan salamku pada Pakdhemu. Bilang aku sakit tak bisa ikut Jumatan…”
Ketika aku masih terpaku dengan rentetan adegan tak terduga itu, anak kecil itu mencoba memeluk dan sambil setengah melompat berusaha menaiki kerbau yang diikat di pohon samping rumah.
Biar saja .Biar dia merasa bagaimana sakitnya jatuh dari punggung kerbau.
Dan seorang perempuan berhanduk dan rambut yang masih kuyup menuntun Bapak kembali ke kamar. Aku tak tahu apa yang dilihat Bapak pada perempuan itu. Kalau soal gemuk, ibuku juga gemuk. Kalau soal rambut panjang, ibuku juga berambut panjang. Mata ibuku, yang satu-satunya lulusan SR didesaku jauh lebih tenang dan… tidak mengerikan seperti itu walaupun ia sedang marah. Dan ibuku selalu mengajarkan untuk selalu keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Kalau aku keluar kamar mandi hanya berhanduk beliau akan mengomel habis-habisan. Seperti lonte katanya.
Kucari ibuku dengan nafas memburu untuk mengadu tentang iblis betina yang telah menguasai bapakku tadi malam. Aku tak bisa menerima ada wanita lain yang tertawa keras seperti itu di rumah kami yang senyap. Kuambil satu-satunya golok tumpul pemecah kelapa yang kami punya. Akan kusembelih wanita itu dan kutaburkan segar darahnya di halaman depan rumah dengan restu ibuku supaya tiada lagi iblis lain yang menggoda bapakku. Tapi jawaban ibuku membuat semua deru nafasku musnah.
“Ibumu ini setiap hari berjalan semakin jauh menuju ke barat dan bapakmu tetaplah pemuda yang selalu terpesona oleh indahnya pantulan terbit sang surya di setiap paginya. Itu sudah biasa. Lepaskan golokmu itu. Bermainlah di sawah”
Aku berjalan kuyu menjauh. Hari itu, di samping kandang kerbau aku belajar mengisap rokok beroles candu untuk pertama kalinya. Sengat bau tahi kerbau bangunkan aku saat matahari kembali ke peraduannya. Aku dan bapakku tidak Jumatan.
Aku tak mau pulang. Aku tak mau lagi terciprat ludah bapakku yang mendongeng tentang Arjuna yang ragu membunuh seratus saudara tirinya di lembah Kuru dan tetap meregang tali gandhewanya, tentang Ronggo Warsito yang meramal segalanya tetapi tetap terkejut menatap Izroil yang berkelebat di pendapa rumahnya.
Bagi aku dan bapakku, mulai hari itu Gusti Allah hanyalah seorang gadis desa yang sedang mekar yang akan tersenyum malu kalau kami berkirim salam padanya lewat teman-teman. Kami berdua hanyalah dua pemuda tanggung yang malu akan cipratan lumpur di lengan kemeja saat akan datang berkunjung. Tiada lantunan doa bagai rangkaian bunga dan rayuan mesra yang sempat kami ucapkan padaNya. Dan ketika gadis desa itu telah merekah menjadi matahari tengah siang, mata kami basah oleh airmata silau tak tertahankan sedang lumpur pematang mencengkeram erat kehendak untuk berpulang.
Tanpa sadar mataku basah. Tidak. Aku tak boleh menangis. Aku malu pada anak kecil ingusan dengan layang-layang dipundaknya. Ia hanya diam bermain gundu di dekat selokan dengan mata melirik kepadaku. Sepertinya ia menunggu apa yang hendak aku lakukan. Aku tidak bergeming dari tempatku. Dan kusenandungkan Megatruh, satu-satunya tembang yang selalu ingin kunyanyikan ketika aku putus harapan. Dan silau lampu neon kamar bangunkanku…
“Pak, tadi bapak mengigau tak keruan. Aku tak menduga bapak bisa menyanyi tembang Jawa.”
“Itu tadi tembang megatruh Bu.”
Istriku bekas anak kolong yang menghabiskan masa kecilnya di markas tentara mana pernah tahu soal itu.
“Megat itu memutuskan. Menceraikan tepatnya. Ruh itu roh, nyawa. Tembang megatruh itu tembang yang bercerita tentang pisahnya nyawa dari badan.”
“Bapak jangan bicara begitu…”
Dan iapun menoleh keluar kamar supaya airmata di pelupuk matanya tak terlihat olehku.

Medulla Oblongata Part 1

Kutatap mata si bungsu, sang murai batuku, lekat-lekat. Sudah lebih sebulan ini kicaunya yang berisik dan memekakkan telinga hilang dari peredaran.Aku tahu ia masih memakai seragam yang sama padahal ia baru saja naik kelas 3. Kata ibunya rapornya bagus juga. Walau tak pernah juara kelas, ia tak pernah membuatku malu. Sayang tak ada seragam baru atau boneka baru untuk hadiah.
Mana berlianku yang satu lagi ?
Kualihkan pandang ke anakku yang sulung yang duduk membaca majalah yang dibawa teman sekantorku yang datang tadi pagi. Aku tahu ia pasti cari berita tentang Vic Zhou, salah satu anggota F4 yang telah ia nobatkan menjadi pacar bayangannya. Aku tak pernah marah karena itu. Sudah waktunya memang ia punya seorang pacar. Ia sudah 16 tahun. Kalau aku sembuh nanti, aku bantu dia membuat koleksi foto idolanya.
Tapi wajahnya yang pucat itu yang aku khawatirkan. Sudah dua bulan ini ia kerja malam di pasar swalayan. Aku takut nilai rapornya akan menurun. Ia tak pernah lagi berlatih menari seperti sebelum aku sakit.
“Minggu ini aku ikut jaga stan di pameran mobil, Pak.”
“Boleh.” Jawabku lirih.
“Asal bajunya yang sopan. Jangan pakai rok mini. Haram hukumnya.”
Ia hanya tersenyum. Ia tahu aku tak suka wanita yang menjual barang lewat pesona tubuhnya. Aku memang kerap mengomel di depan televisi waktu melihat iklan sabun mandi.
“Di pameran mobil semua sales seperti itu Pak.”
Tapi aku tak mau kau jadi serendah itu!
“Sehari aku dibayar lima puluh ribu.”
Aku bisa menjawab apa?
Kita memang butuh uang. Walaupun aku mendapat asuransi dari perusahaan tempatku bekerja, tapi mereka semua butuh makan. Butuh membayar uang sekolah. Yang lebih celaka lagi, arisan PKK tak bisa ditunggak. Apa kata para tetangga nanti kalo sampai tahu istriku menunggak uang arisan? Dan televisi 17 inci kami sudah terjual untuk membayar ongkos daftar ulang. Masih lumayan walkman si Ami, hadiah ulang tahunnya yang ke 15 kemarin, masih ada sehingga mereka bisa bergantian mendengar lagu-lagu mandarin yang bisa dinikmati tanpa tahu arti kata demi katanya.
Sudah empat puluh lima hari ini aku disini. Mulanya hanya pusing yang segera sembuh setelah meminum obat yang diiklankan di televisi. Kemudian pusing itu tak tertahankan lagi. Yang lebih mengesalkan lagi, pusing yang kualami datangnya seperti kereta api pembawa 12 gerbong tangki solar yang selalu lewat tengah malam. Lamanya seperti menunggu pintu perlintasan kereta dibuka dan sakitnya merambat sampai ke ujung jari kaki.
Banyak yang bertanya-tanya apakah aku sekarang mempunyai hobi bertengkar dengan istriku di tengah malam atau apakah aku mengalami mimpi buruk yang berkepanjangan. Kami keluarga biasa-biasa saja. Kami bukanlah keluarga gagak diujung siang yang pernah terlihat bertengkar memperebutkan harta warisan dan juga bukan keluarga miskin yang selalu meributkan mimpi yang tak kunjung jadi kenyataan. Istriku baik-baik saja walau kemana-mana selalu bersepeda motor dan kedua anakku tak pernah menyusahkan walau kami membeli baju baru hanya sehari menjelang takbir hari raya menderu. Kami bertengkar sekali-sekali. Tapi tak pernah terdengar oleh tetangga. Tapi aku juga tahu teriakanku betul-betul mengganggu. Aku takut aku akan segera mati jika kututup mukaku dengan bantal saat gelombang itu berpusar di kepalaku supaya teriakanku tak terdengar.
Sambil menunduk aku menjawab bahwa teriakanku itu karena pusing yang selalu datang tanpa bisa diperkirakan. Sebagian menyarankan supaya aku pergi ke dokter A atau dokter B. Tapi lebih banyak yang bilang itu karena aku baru saja diangkat menjadi wakil kepala bagian pergudangan di kantor. Santet katanya. Karena tidak sanggup lagi aku membayangkan betapa mahalnya biaya berobat ke dokter, aku pergi ke beberapa “orang tua” seperti yang mereka sarankan. Kemenyan, bunga tujuh rupa pembuang sial di perempatan, air mineral yang sudah disembur ludah bahkan sampai segenggam tanah kuburan eyang putriku telah kucoba. Tapi sang pusing tak juga berhenti berkunjung di penghujung malam.
Sudah lima belas hari ini sang pusing telah membuat jadwalnya sendiri. Ia datang sesukanya dan dimana saja. Tanpa permisi. Tanpa peduli. Sering tiba-tiba serasa ada yang menghantamku dengan palu diujung jari kaki-kakiku saat ia datang. Sejurus aku berteriak dan semuanya tiba-tiba kelam. Istriku membawaku ke rumah sakit segera setelah ia temukan aku tertelungkup dengan memegang handuk di kamar mandi. Kurang ajar juga sang pusing itu. Berani-beraninya ia datang saat aku hendak buang air besar.
“Bu, berapa biayanya?”
“Entahlah. Kalau perlu kita jual semua milik kita, Pak.” Jawabnya gagah sambil menahan air mata.
Memangnya apa sih yang kita punya?

Actually I wrote several short stories from 2001-2004. I would like to share them with you for free. I found my short stories are getting darker on their theme hahahaha. A friend of mine once said that if I wanted to write a 'bright story' then I had to make my own life brighter. I think he is right. Now I'm trying to make my life brighter and I hope my stories will be brighter than before too. Meanwhile, please enjoy my story entitled "Medulla Oblongata"which I have cut into several parts to make you read it easily.

Friday, April 08, 2005

Indonesian Student

I walked into my classroom this morning with a view of modern but still traditional Indonesian students. They wore modern outfits (Í'm sorry I won't mention any brands here. This is not advertising page!), expensive accesories, and they learnt English. But the most amazing aspect from my students was that they were choosing to sit on the backseats as if they would be safer there. hahahaha! I was a threat to their peace during 1.5 hours sitting on my class thanks to my questions and my critics.