This blog is one of my efforts to publish most of my ideas which are considered to be weird, uncoventional and controversial by my environment. Everybody needs a dark and personal tunnel for their deepest and darkest thought anyway...Say what you want to say here and i will be glad to read it

Saturday, April 09, 2005

Medulla Oblongata Part 1

Kutatap mata si bungsu, sang murai batuku, lekat-lekat. Sudah lebih sebulan ini kicaunya yang berisik dan memekakkan telinga hilang dari peredaran.Aku tahu ia masih memakai seragam yang sama padahal ia baru saja naik kelas 3. Kata ibunya rapornya bagus juga. Walau tak pernah juara kelas, ia tak pernah membuatku malu. Sayang tak ada seragam baru atau boneka baru untuk hadiah.
Mana berlianku yang satu lagi ?
Kualihkan pandang ke anakku yang sulung yang duduk membaca majalah yang dibawa teman sekantorku yang datang tadi pagi. Aku tahu ia pasti cari berita tentang Vic Zhou, salah satu anggota F4 yang telah ia nobatkan menjadi pacar bayangannya. Aku tak pernah marah karena itu. Sudah waktunya memang ia punya seorang pacar. Ia sudah 16 tahun. Kalau aku sembuh nanti, aku bantu dia membuat koleksi foto idolanya.
Tapi wajahnya yang pucat itu yang aku khawatirkan. Sudah dua bulan ini ia kerja malam di pasar swalayan. Aku takut nilai rapornya akan menurun. Ia tak pernah lagi berlatih menari seperti sebelum aku sakit.
“Minggu ini aku ikut jaga stan di pameran mobil, Pak.”
“Boleh.” Jawabku lirih.
“Asal bajunya yang sopan. Jangan pakai rok mini. Haram hukumnya.”
Ia hanya tersenyum. Ia tahu aku tak suka wanita yang menjual barang lewat pesona tubuhnya. Aku memang kerap mengomel di depan televisi waktu melihat iklan sabun mandi.
“Di pameran mobil semua sales seperti itu Pak.”
Tapi aku tak mau kau jadi serendah itu!
“Sehari aku dibayar lima puluh ribu.”
Aku bisa menjawab apa?
Kita memang butuh uang. Walaupun aku mendapat asuransi dari perusahaan tempatku bekerja, tapi mereka semua butuh makan. Butuh membayar uang sekolah. Yang lebih celaka lagi, arisan PKK tak bisa ditunggak. Apa kata para tetangga nanti kalo sampai tahu istriku menunggak uang arisan? Dan televisi 17 inci kami sudah terjual untuk membayar ongkos daftar ulang. Masih lumayan walkman si Ami, hadiah ulang tahunnya yang ke 15 kemarin, masih ada sehingga mereka bisa bergantian mendengar lagu-lagu mandarin yang bisa dinikmati tanpa tahu arti kata demi katanya.
Sudah empat puluh lima hari ini aku disini. Mulanya hanya pusing yang segera sembuh setelah meminum obat yang diiklankan di televisi. Kemudian pusing itu tak tertahankan lagi. Yang lebih mengesalkan lagi, pusing yang kualami datangnya seperti kereta api pembawa 12 gerbong tangki solar yang selalu lewat tengah malam. Lamanya seperti menunggu pintu perlintasan kereta dibuka dan sakitnya merambat sampai ke ujung jari kaki.
Banyak yang bertanya-tanya apakah aku sekarang mempunyai hobi bertengkar dengan istriku di tengah malam atau apakah aku mengalami mimpi buruk yang berkepanjangan. Kami keluarga biasa-biasa saja. Kami bukanlah keluarga gagak diujung siang yang pernah terlihat bertengkar memperebutkan harta warisan dan juga bukan keluarga miskin yang selalu meributkan mimpi yang tak kunjung jadi kenyataan. Istriku baik-baik saja walau kemana-mana selalu bersepeda motor dan kedua anakku tak pernah menyusahkan walau kami membeli baju baru hanya sehari menjelang takbir hari raya menderu. Kami bertengkar sekali-sekali. Tapi tak pernah terdengar oleh tetangga. Tapi aku juga tahu teriakanku betul-betul mengganggu. Aku takut aku akan segera mati jika kututup mukaku dengan bantal saat gelombang itu berpusar di kepalaku supaya teriakanku tak terdengar.
Sambil menunduk aku menjawab bahwa teriakanku itu karena pusing yang selalu datang tanpa bisa diperkirakan. Sebagian menyarankan supaya aku pergi ke dokter A atau dokter B. Tapi lebih banyak yang bilang itu karena aku baru saja diangkat menjadi wakil kepala bagian pergudangan di kantor. Santet katanya. Karena tidak sanggup lagi aku membayangkan betapa mahalnya biaya berobat ke dokter, aku pergi ke beberapa “orang tua” seperti yang mereka sarankan. Kemenyan, bunga tujuh rupa pembuang sial di perempatan, air mineral yang sudah disembur ludah bahkan sampai segenggam tanah kuburan eyang putriku telah kucoba. Tapi sang pusing tak juga berhenti berkunjung di penghujung malam.
Sudah lima belas hari ini sang pusing telah membuat jadwalnya sendiri. Ia datang sesukanya dan dimana saja. Tanpa permisi. Tanpa peduli. Sering tiba-tiba serasa ada yang menghantamku dengan palu diujung jari kaki-kakiku saat ia datang. Sejurus aku berteriak dan semuanya tiba-tiba kelam. Istriku membawaku ke rumah sakit segera setelah ia temukan aku tertelungkup dengan memegang handuk di kamar mandi. Kurang ajar juga sang pusing itu. Berani-beraninya ia datang saat aku hendak buang air besar.
“Bu, berapa biayanya?”
“Entahlah. Kalau perlu kita jual semua milik kita, Pak.” Jawabnya gagah sambil menahan air mata.
Memangnya apa sih yang kita punya?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home