This blog is one of my efforts to publish most of my ideas which are considered to be weird, uncoventional and controversial by my environment. Everybody needs a dark and personal tunnel for their deepest and darkest thought anyway...Say what you want to say here and i will be glad to read it

Saturday, April 09, 2005

Medulla Oblongata Part 2

Aku tahu ada yang berbeda dengan pusing yang pernah kualami sebelumnya. Kini sang pusing tak datang sendirian. Sudah sepuluh hari ini aku bisa merasakan kedatangannya dengan kehadiran seorang anak laki-laki disampingku. Tak ada yang melihatnya kapan ia datang. Bahkan istriku yang selalu menunggu disampingku tak juga tahu. Sengaja tak kuberitahu karena hanya akan memberatkan pikirannya yang sudah tak keruan. Ia yang dulu sedikit gemuk (satu-satunya kritik yang tak berani kulontarkan karena aku takut ia akan kehilangan konsentrasi waktu memasak di dapur) kini tirus dan cepat cemas.
Anak itu hanya berdiri diam diujung tempat tidur. Tak disedotnya ingus yang berleleran dihidungnya. Bajunya berdebu dengan layang-layang tergantung dipundaknya. Matanya besar berkedip-kedip seperti melihat matahari. Kepalanya botak dengan sedikit kuncung mirip Ronaldo. Persis gambaran anak desa yang pulang terbirit-birit di waktu magrib karena sudah dibentak emaknya yang memegang gagang sapu. Yang aku heran, kakinya yang tak beralas menapak lantai marmer rumah sakit yang mengkilap tapi tak kulihat bayang-bayang dibelakangnya.
Ketika ia sudah mulai muncul, aku mulai bersiap akan datangnya gelombang yang akan mengamuk dan menenggelamkanku di pusarannya yang kelam. Kata dokter, hanya sedikit morfin yang bisa membuatku tidur pulas ketika tubuhku mulai menegang tak keruan. Hanya itu. Dan ketika ku terbangun, anak itu masih ada disitu dan kemudian beranjak pergi. Tetap tanpa bayang-bayang. 7 hari yang lalu aku sempat bertanya,
“Kamu siapa?”
“Aku tak berani pulang. Sudah tiga hari ini aku berhenti mengaji.”
“Mengapa?”
“Aku bosan.”
Itu saja yang sempat kami perbincangkan. Selanjutnya sang pusingpun muncul begitu saja tak terelakkan seperti gelontoran air coklat dari pintu Dam Jagir yang menghanyutkan gubuk-gubuk pelacur-pelacur veteran di bantaran Kali Mas.
Dalam bawah sadarku aku bersama anak kecil yang ingusnya terus menerus berleleran bertemu dengan almarhum bapakku, seorang lurah bijak yang menghabiskan malam-malamnya dibawah kelebat semerbak parfum murahan ketiak para ledhek dan teriakan-teriakan menjilat dari para bawahannya. Suatu pagi ketika bau nafasnya yang penuh aroma tuak masih tercium tajam, ia berpesan,
“Nanti siang sampaikan salamku pada Pakdhemu. Bilang aku sakit tak bisa ikut Jumatan…”
Ketika aku masih terpaku dengan rentetan adegan tak terduga itu, anak kecil itu mencoba memeluk dan sambil setengah melompat berusaha menaiki kerbau yang diikat di pohon samping rumah.
Biar saja .Biar dia merasa bagaimana sakitnya jatuh dari punggung kerbau.
Dan seorang perempuan berhanduk dan rambut yang masih kuyup menuntun Bapak kembali ke kamar. Aku tak tahu apa yang dilihat Bapak pada perempuan itu. Kalau soal gemuk, ibuku juga gemuk. Kalau soal rambut panjang, ibuku juga berambut panjang. Mata ibuku, yang satu-satunya lulusan SR didesaku jauh lebih tenang dan… tidak mengerikan seperti itu walaupun ia sedang marah. Dan ibuku selalu mengajarkan untuk selalu keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Kalau aku keluar kamar mandi hanya berhanduk beliau akan mengomel habis-habisan. Seperti lonte katanya.
Kucari ibuku dengan nafas memburu untuk mengadu tentang iblis betina yang telah menguasai bapakku tadi malam. Aku tak bisa menerima ada wanita lain yang tertawa keras seperti itu di rumah kami yang senyap. Kuambil satu-satunya golok tumpul pemecah kelapa yang kami punya. Akan kusembelih wanita itu dan kutaburkan segar darahnya di halaman depan rumah dengan restu ibuku supaya tiada lagi iblis lain yang menggoda bapakku. Tapi jawaban ibuku membuat semua deru nafasku musnah.
“Ibumu ini setiap hari berjalan semakin jauh menuju ke barat dan bapakmu tetaplah pemuda yang selalu terpesona oleh indahnya pantulan terbit sang surya di setiap paginya. Itu sudah biasa. Lepaskan golokmu itu. Bermainlah di sawah”
Aku berjalan kuyu menjauh. Hari itu, di samping kandang kerbau aku belajar mengisap rokok beroles candu untuk pertama kalinya. Sengat bau tahi kerbau bangunkan aku saat matahari kembali ke peraduannya. Aku dan bapakku tidak Jumatan.
Aku tak mau pulang. Aku tak mau lagi terciprat ludah bapakku yang mendongeng tentang Arjuna yang ragu membunuh seratus saudara tirinya di lembah Kuru dan tetap meregang tali gandhewanya, tentang Ronggo Warsito yang meramal segalanya tetapi tetap terkejut menatap Izroil yang berkelebat di pendapa rumahnya.
Bagi aku dan bapakku, mulai hari itu Gusti Allah hanyalah seorang gadis desa yang sedang mekar yang akan tersenyum malu kalau kami berkirim salam padanya lewat teman-teman. Kami berdua hanyalah dua pemuda tanggung yang malu akan cipratan lumpur di lengan kemeja saat akan datang berkunjung. Tiada lantunan doa bagai rangkaian bunga dan rayuan mesra yang sempat kami ucapkan padaNya. Dan ketika gadis desa itu telah merekah menjadi matahari tengah siang, mata kami basah oleh airmata silau tak tertahankan sedang lumpur pematang mencengkeram erat kehendak untuk berpulang.
Tanpa sadar mataku basah. Tidak. Aku tak boleh menangis. Aku malu pada anak kecil ingusan dengan layang-layang dipundaknya. Ia hanya diam bermain gundu di dekat selokan dengan mata melirik kepadaku. Sepertinya ia menunggu apa yang hendak aku lakukan. Aku tidak bergeming dari tempatku. Dan kusenandungkan Megatruh, satu-satunya tembang yang selalu ingin kunyanyikan ketika aku putus harapan. Dan silau lampu neon kamar bangunkanku…
“Pak, tadi bapak mengigau tak keruan. Aku tak menduga bapak bisa menyanyi tembang Jawa.”
“Itu tadi tembang megatruh Bu.”
Istriku bekas anak kolong yang menghabiskan masa kecilnya di markas tentara mana pernah tahu soal itu.
“Megat itu memutuskan. Menceraikan tepatnya. Ruh itu roh, nyawa. Tembang megatruh itu tembang yang bercerita tentang pisahnya nyawa dari badan.”
“Bapak jangan bicara begitu…”
Dan iapun menoleh keluar kamar supaya airmata di pelupuk matanya tak terlihat olehku.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home