This blog is one of my efforts to publish most of my ideas which are considered to be weird, uncoventional and controversial by my environment. Everybody needs a dark and personal tunnel for their deepest and darkest thought anyway...Say what you want to say here and i will be glad to read it

Saturday, April 09, 2005

Medulla Oblongata Part 3

Tak banyak yang bisa kukerjakan. Aku cuma diam diantar menembus tembok-tembok ruang dan waktu yang tak bisa kuhindari. Seakan-akan kepalaku ini di restart berulang-ulang ketika perjalananku hampir kembali.
Selasa dua belas hari yang lalu anak kecil berjambul itu muncul kembali ketika benang morfin menarik badan layang-layangku ke angkasa. Tiba-tiba aku sudah berada di depan sebuah kamar hotel kelas melati. Banyak pasangan dengan tawa menggiriskan seperti yang pernah kudengar di depan kamar bapakku berjalan terburu-buru.
Mengapa aku bisa disini?
Kesiur angin membawaku ke sebuah kamar berantakan. Ya Tuhan itu Ami kecilku. Berlianku yang nomor satu. Ia sibuk merapikan bajunya dan di ujung ranjang berantakan ada seorang bapak 50 tahunan bercelana panjang tanpa kemeja duduk menghitung uang.
“Ini uang panjarnya. Aku ambil model yang paling murah saja ya.”
Mengapa kaulakukan itu Ami?
“Katanya tadi mau bayar lunas.”
“Nanti saja sisanya. Saat kau temani aku saat rapat dinas di Surabaya aku lunasi semua.
Kurang ajar! Setan!
“Kau cantik sekali. Ini pertama aku bercinta dengan bekas muridku sendiri. Sayang kau kurang pengalaman. Baru sekali ini ya?”
Kulihat Ami hanya diam terpaku. Dan saat bapak itu pergi sambil tersenyum cengengesan, kulihat ada air mata tertahan di pelupuk matanya. Saat itu aku hanya berdoa semoga bumi ini merekah dan menelan bulat-bulat tubuhku yang dusta ini. Ini hanya mimpi. Hanya mimpi.
Aku terbangun saat dokter telah memasang slang pernafasan. Ia bilang aku telah “hilang” beberapa kali dalam dua jam terakhir. Tapi semua lega aku tak hilang selama-lamanya. Istriku nampak semakin cemas, pucat dan lelah. Ami datang dengan nafas tersengal-sengal masih dengan seragam pameran, dengan baju yang sama dengan baju yang ia pakai di mimpiku.
“Bapak jangan banyak berpikir soal obat. Tadi ada mantan guru SMP ku yang beli mobil di tempatku dan aku dapat komisi seratus lima puluh ribu.”
Aku hilang lagi selama dua hari.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home