This blog is one of my efforts to publish most of my ideas which are considered to be weird, uncoventional and controversial by my environment. Everybody needs a dark and personal tunnel for their deepest and darkest thought anyway...Say what you want to say here and i will be glad to read it

Saturday, April 09, 2005

Medulla Oblongata Part 4

Tekanan darahku normal. Aku tak punya kadar kolesterol yang berlebihan. Aku tak pernah mengalami cedera di kepala. Pendek kata, semua baik-baik saja kata dokter. Itulah anehnya. Sehari dua hari aku masih berusaha mencerna apa yang mereka diskusikan. Tapi ketika dokter membawa beberapa anak muda yang juga berbaju putih dan mendiskusikan penyakit di kepalaku, tak dapat aku menahan kesabaran lebih lama.
“Aku bukan materi pelajaranmu!”
“Maaf pak. Aku ingin mereka belajar.”
“Aku bukan bahan diskusimu. Aku pasienmu!”
“Maaf Pak. Kita sedang mencari penyakit apa sebenarnya yang Bapak derita.”
“Aku sudah jual semua yang bisa aku jual dan kau bilang kalian para dokter tidak tahu apa yang mengamuk di kepalaku?”
“Maaf Pak. Kami sudah berusaha keras.”
Beranikah kalian mengajak mahasiswa mendiskusikan penyakit yang di derita Pak Bupati atau Pak Kapolres di depan hidung mereka?
Kutengok sebelah kiri ranjangku. Anak itu sudah bermain lagi dengan kereta yang ia buat dari kulit jeruk bali. Aku melihat anak itu mulai ada bayangannya, cuma samar-samar walaupun matahari terik menerobos jendela kamar.
“Darimana kau dapat kulit jeruk bali?”
“Pakdheku membeli jeruk bali dari pasar kecamatan. Aku minta semua kulitnya untuk kereta-keretaan.”
“Enak rasanya?”
“Aku boleh menghabiskan 3 jeruk bali yang tersisa jika aku tak pernah telat sembahyang.”
Mulai ada denyut-denyut diantara kedua mataku tepat diujung atas hidungku. Pertanda yang sama. Sebentar lagi aku akan mengucap salam pada kesadaran. Aku tak peduli lagi dengan serombongan calon-calon dokter yang melihat heran sambil berbisik-bisik kearahku.
“Sakit kepala yang hebat kadang menimbulkan halusinasi yang dalam pada penderitanya. Kalian bisa mengamati dan mencatatnya dengan seksama.”
Persetan dengan kalian! Sialan! Denyut ini mulai merambat naik ke ubun-ubun dan kalian hanya bisa berdiskusi?
Dan ketika semua telah berubah menjadi gelap, aku merasa terbaring di sebuah lantai keras. Aku bingung. Dimana sih aku ini? Kualihkan pandang ke sebelah kananku dan kulihat ada seorang tua bersila dengan sebuah buku tebal dipangkuannya. Pakdhe. Tidak salah lagi. Itu pakdheku. Pakdhe yang seumur hidupnya tidur di lantai beralaskan tikar walaupun ia cukup kaya untuk membeli sebuah ranjang dan kasur yang empuk. Tidur beralas tikar di lantai keras akan selalu mengingatkannya akan hidup sesudah mati katanya. Karena seperti itulah ranjang kita nantinya. Kasur hanya akan menunda kesadaran kita akan rumah kedua rupanya. Bahkan dengan cara tidur seperti itu, rumah kita akan aman karena kita bisa merasa derap langkah orang berjalan di sekeliling kita.
Beliau diam menatap kosong ke halaman luar. Dari pintu kamar itu, masuklah budheku membawa secangkir minuman. Kopi pahit pasti.
“Pak, janganlah terlalu dipikir si Romli itu. Ini kopimu. Minumlah.”
“Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada dia.”
“Ia kan sudah dewasa. Ia bisa menjaga dirinya sendiri.”
“Ia memang sudah besar. Tapi otaknya masih tumpul. Bapaknya terlalu sibuk dengan ledhek-ledheknya ketimbang mengajarinya agama. Ibunya tak bisa berbuat apa-apa. Dan aku hanya bisa menuntunnya membaca alif ba ta.”
“Lho bisa mengaji kan sudah lumayan.”
“Buat apa kalau tak bisa mendapat maknanya.”
“Ia toh bukan anak kita Pak.”
“Kau mau ia di tuntun setan yang menunggunya di perempatan?”
Setelah aku tahu ulah bapakku, memang hanya Pakdheku yang setia menungguku dengan sapu terhunus tiap menjelang waktu sholat Ashar. Kalau aku terlambat pulang karena bermain layang-layang, melihat sapu itu saja aku sudah gemetaran. Walaupun nyatanya beliau tidak pernah benar-benar pernah memukulku. Waktu aku mencuri buah kelapa tetangga, justru beliau yang marah dan memohon maaf berkali-kali atas kesalahanku. Aku harus memohon maaf dan bangun tiap malam untuk sholat taubat sepuluh rokaat. Waktu aku berkelahi dengan temanku sampai temanku itu harus dirawat di rumah pak Mantri, ia menangis diam-diam saat sholat malam. Hanya beliau yang menangis untukku. Saat aku ketahuan mengintip pembantuku yang mandi di kali, ia membelikanku mas kawin seekor kerbau dan menyuruhku menikah dengan pembantuku. Katanya, aku sudah menzinahinya dengan mataku.
Aku hanya ingin tahu perempuan tapi aku tak mau menikah dengan seorang pembantu. Kutinggalkan rumah pakdheku diam-diam menuju ke kota dan kukembalikan Quran pemberiannya disamping tubuhnya yang tertidur pulas. Kutinggalkan pakdheku, Quran dan sholat sejak saat itu.
“Kalian bisa melihat bagaimana sakit kepala yang hebat mulai menjalar pada tubuh pasien ini sehingga terlihat simpul-simpul otot badannya menegang.”
“Saat ini secara kronologis anda bisa mengamati dengan seksama saat kesadaran penderita mulai hilang secara perlahan, tubuh yang mengejang sampai pasien benar-benar pingsan.”
“Terima kasih. Saya kira sampai disini dulu pelajaran kita hari ini. Tolong resume kuliah hari ini dikumpulkan di meja saya paling lambat besok pukul 9 pagi. Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.”

0 Comments:

Post a Comment

<< Home