This blog is one of my efforts to publish most of my ideas which are considered to be weird, uncoventional and controversial by my environment. Everybody needs a dark and personal tunnel for their deepest and darkest thought anyway...Say what you want to say here and i will be glad to read it

Saturday, April 09, 2005

Medulla Oblongata Part 5

Lamat-lamat kudengar diskusi istriku dengan dokter disudut ruangan. Aku mulai terjaga dan aku mau dengar apa yang mereka bicarakan diam-diam. Kulirik jam dinding menunjuk jam 10 pagi. Astaga! Sudah hampir 24 jam aku tak sadarkan diri. Penat dan badan yang lengket sangat menjengkelkan. Tapi kutahan. Sambil tetap terpejam aku pasang telinga baik-baik.
“Saya ingin ibu tahu hasil diskusi kami atas penyakit yang diderita suami ibu.”
“Dari hasil rontgen dan gejala-gejala yang nampak, kami berkesimpulan bahwa…”
Sejenak mereka terdiam.
“Bahwa apa? Katakan saja dok. Saya siap mendengarnya.”
Istriku memang selalu begitu. Selalu ingin terlihat kuat walaupun hatinya hancur.
“Ada tumor di otak suami ibu.”
Menangislah dik, jangan kau tahan-tahan seperti itu.
“Bisa disembuhkan dengan operasi.”
“Biayanya sekitar dua puluh lima sampai tiga puluh juta Bu. Dengan asuransi, ibu mungkin hanya tinggal membayar sepertiganya dan membiayai perawatan sesudah operasi.”
Ruangan mendadak hening. Semakin hening ketika yang terdengar hanya ketukan sepatu dokter meninggalkan istriku yang diam dengan mata yang basah. Aku tak mampu lagi berpikir. Dalam diamku aku ingin sekali memeluknya. Tapi apa guna pelukku jika itu hanya menimbulkan kenangan mendalam saat aku benar benar hilang. Kami telah bersama begitu lama. Begitu lama hingga tak sempat terlintas bahwa suatu saat kami mungkin harus berpisah.
Tujuh belas tahun yang lalu aku kenal dia sebagai perempuan yang benar-benar berbeda diantara para wts lokaliasasi Jarak di Surabaya. Ia benar-benar berbeda karena ia hanya berdandan seadanya diantara geliat bedak dan parfum murahan. Ia lebih memilih memakai kaos dan blue jeans daripada memakai rok mini dengan belahan dua belas senti yang memang ampuh menarik para kumbang yang menggenggam sebotol bir hitam. Ia selalu diam menatap acara televisi sambil menunggu pelanggan daripada duduk di emperan Wisma Anggrek. Ia tak minum bir Bintang untuk menghilangkan rasa malu saat telanjang. Mungkin itu yang membuatnya dilupakan. Satu tamu dalam sehari sudah terlalu banyak buatnya.
Aku mengamatinya diam-diam semenjak aku ikut menjadi anak buah kapal barang. Setiap kami singgah di Surabaya untuk menurunkan barang, beberapa anak buah kapal selalu tertawa-tawa sambil menyanyikan lagu plesetan “…Tanjung Perak, tepi laut. Siapa suka boleh ikut…” menjadi “…Tanjung Perak tepi Jarak… Siapa napsu boleh ikut…Huahahaha” Di Jarak lah kami mencari cinta dan perhatian dengan harga terjangkau. Bagi anak buah kapal seperti aku, Dolly berarti sebulan gaji.
Ratmi namanya. Aku kenal dia karena suatu hari saat aku datang ke Jarak di malam minggu jam setengah satu, semua kamar sudah terisi. Hanya tinggal beberapa wadam dan perempuan usia empat puluhan yang menunggu laki-laki bokek yang benar-benar mabuk untuk ditipu.
“Kamu ndak ngamar tah?”
“Sudah tadi.”
“Trus?”
“Yo wis. Diem saja ndik sini.”
“Kok ndak keluar-keluar gitu.”
“Mau rokok?”
“Ndak makasih.”
“Bir?”
“Ndak makasih. Es jeruk saja.”
“Kenapa?”
“Ya ndak seneng aja.”
Entah kenapa aku lupa untuk mengajaknya ngamar sampai-sampai aku disindir seorang makelar,
“Kalau kere jangan kesini mas! Beli sabun saja sana!”
Dan sejak itu aku dan Ratmi selalu urunan untuk membayar kencan per jam walaupun tak pernah ada persetubuhan. Sering sebelum berjalan-jalan di Siola, kami harus urunan untuk membayar seharga booking tiga jam. Hanya dengan Ratmi aku tak usah minum berbotol-botol tangkur supaya dibilang jantan. Kencan kami adalah perdebatan tanpa ujung tentang siapa yang lebih hebat diantara Ucok Harahap dan Rhoma Irama di Soto Ambengan, genggaman tangan sepanjang lorong pasar Wonokromo dan tertawa tergelak-gelak saat ada razia polisi di Jalan Diponegoro. Walau kami tertangkap dan harus menginap sehari di tahanan Polsek, kami terus tertawa cekikikan. Didepan bu hakim tindak pidana ringan, aku jujur berkata kalau kami sedang bermain ular tangga di belakang kios tambal ban milik seorang langganan Ratmi sehabis nonton film India. Hasilnya aku ditendang polisi, diumpat bagai binatang dan dihina bagai seonggok kotoran. Katanya aku sudah menghina pengadilan.
“Mas Romli, nanti mampir beli sate depan TVRI yuk. Aku tadi disuruh nglayani pak Kapolsek. Lumayan. Sudah ndak disidang, disangoni lagi.”
Sudah lebih dari enam tahun Ratmi disitu sejak ia datang di Surabaya untuk pertama kali dan ditipu seorang sopir bis. Ia dijanjikan akan diantar ke Rungkut menjadi pegawai di pabrik plasti namun berakhir di sebuah rumah kontrakan. Enam hari ia disekap dan diperkosa berulang kali. Setelah sang sopir bosan ia di jual murah ke Bu Seno, sang mucikari veteran dari Jarak saat harapannya telah pergi.
Ia pergi dari tangsi karena bapaknya hanyalah seorang sersan angkatan darat yang selalu duduk melamun di depan TK PERSIT Kartika Chandra sejak pulang menumpas gerakan Klandestein di Timor Timur. Kata seorang tetangga, bapaknya si Ratmi itu menembak sebuah gubuk di tengah ladang yang disangka tempat persembunyian separatis dengan sebuah peluncur granat berkali-kali. Saat ia dengan langkah bangga menyapu reruntuhan dengan tembakan senapan otomatis, ia menginjak potongan paha yang terlalu kecil untuk ukuran orang dewasa dan sobekan boneka kain. Ia telah keliru menembak sebuah gubuk berisi ibu dengan tiga orang anaknya yang sedang tidur pulas.
Ratmi tak pernah dendam pada laki-laki. Ia telah berjanji untuk tidak mengutuki. Ia menolak untuk menyesali. Ia terlampau lelah untuk menangisi. Ia hanya percaya bahwa derita itu tidak untuk selamanya. Ia salahkan semua orang yang telah menyediakan waktu, tempat dan ranjang untuk menampung hasrat yang tiada henti. Ia salahkan semua istri yang lalai berdandan karena menyangka berdandan hanya bagi perawan yang belum laku. Ia salahkan semua ulama yang tak kunjung berhenti berbicara tentang nafsu yang bisa hilang dengan berpuasa. Para laki-laki itu setiap hari berpuasa. Mereka bukan orang kaya dan istri mereka tak pandai menawan perasaan. Ia salahkan semua tentara dan polisi yang melindungi para mucikari hanya untuk uang keamanan dan layanan gratis tiap pekan. Dan datangnya seorang laki-laki yang siap menerimanya apapun dosanya adalah mimpi yang terlampau mahal untuk dinikmati. Sore itu setelah Ratmi selesai melayani seorang pegawai PEMDA yang mengaku istrinya tengah hamil tua, aku beranikan diri untuk melamarnya. Dari luar kamar mandi, aku berbisik,
“Rat, besok mau nggak kamu nikah sama aku?”
Sunyi. Suara gayung bersambut kecipak air mendadak berhenti.
Kuulangi,
“Rat, kira-kira besok kalau aku ngajak kamu nikah, mau nggak kamu nikah sama aku?”
Senyap.
Dan sayup-sayup diantara suara pancuran air dari kran, kudengar ada isakan tertahan. Kuberanikan membuka pintu kamar mandi dan disana kulihat Ratmi menangis tersedu-sedu diatas wc jongkok. Dengan senyum setengah tidak percaya ia berkata terbata-bata,
“Mengapa tidak sore ini saja?”
Setiap Ratmi bicara ingin berhenti melacur bu Seno selalu menunjukkan sederet angka hutang. Entah angka sepanjang itu asalnya dari mana. Yang jelas semua barang yang ia dapat dari wanita gemuk yang selalu merokok kretek tiga bungkus sehari itu harganya selalu tiga kali lipat dari harga biasa. Kalau Ratmi tak membayar lunas, ia harus berhadapan dengan seorang kapten marinir yang tiap minggu datang dengan pakaian preman bersama beberapa anak buahnya dan minta dilayani gratisan.
Sore itu kami berkemas diam-diam dan kemudian kami melarikan diri dari Bu Seno, germo Wisma Anggrek. Kami pergi ke Banyuwangi, tempat paling jauh yang bisa kami jangkau dengan sisa uang di kantong. Kami menikah dan tahun-tahun bersamanya berlalu begitu cepat. Sekali dua Ratmi secara kebetulan bertemu dengan salah satu pelanggannya. Saat sang pelanggan bilang kepada semua tetangga dan teman bahwa ia seorang mantan penghuni lokalisasi, kami pun segera pindah ke daerah pinggiran diam-diam.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home