This blog is one of my efforts to publish most of my ideas which are considered to be weird, uncoventional and controversial by my environment. Everybody needs a dark and personal tunnel for their deepest and darkest thought anyway...Say what you want to say here and i will be glad to read it

Saturday, April 09, 2005

Medulla Oblongata Part 6

Aku benci perpisahan. Aku terbiasa merasa benci ketika ditinggalkan. Tapi yang sekarang justru aku yang harus menatap kedepan dan mengucap salam perpisahan. Aku tak mau anakku mengakui dosa sebagai jalan yang tak terelakkan. Aku tak mau istriku hanya bisa terdiam tak mampu menahan beban yang tak terpikulkan.
Ia beringsut menuju ke beranda depan mencari udara segar. Ketika aku menoleh ke samping ranjang, kulihat bocah itu bermain gasing tetapi matanya menatapku tanpa perasaan.
Kapan kah kau datang tanpa pusing menyerang?
“Bukan aku yang membawanya. Aku tak tahu apa-apa.” Katanya sambil menyeka ingus yang menetes ke lantai.
Lho kok dia tahu aku berbisik dalam hati seperti itu?
“Sumpah bukan aku.”
Dan ketika sakit yang sama mulai menajalar disekujur tubuhku aku berpikir aku harus segera mengambil keputusan. Mataku tertumbuk pada pisau buah yang tergeletak di samping piring berisi buah-buahan murah pemberian teman-teman.
Sekarang!
“Jangan!” Ucap si bocah pelan sambil memegang tali gasing.
Aku sudah tak tahan!
“Tolong jangan lakukan!” Katanya sambil memegang telapak kakiku.
Tahu apa kamu?
Mataku sudah pedih berkunang-kunang. Kugigit bibir bawahku keras-keras. Saat kurasa asin darah dari bibirku sendiri, anehnya sakitku mulai berkurang.
Sekarang!
“Tolong jangan lakukan! Kau bisa mati nanti!” Kali ini sambil berteriak dan mengguncang-guncang kaki kananku.
Kuraih pisau buah itu dengan tangan kiriku dan mulai kusayat nadiku pelan-pelan. Saat kulit tanganku mulai tergores, ada perasaan nyaman yang belum pernah kurasakan dan sakit kepalaku mulai reda perlahan-lahan. Semakin keras kusayatkan pisau buah ke nadi tangan kananku, semakin aku mengingat nyaman dan harum bau candu yang dioles di rokok kretek murahan saat aku lari dari rumah bapakku dulu.
Saat darah semakin keras mengucur, sakit kepalaku mulai benar-benar hilang. Sejuk kesiur angin kurasakan menerpa tubuhku. Benar-benar lega dan nyaman. Rupanya ini obat yang selama ini kubutuhkan. Sialan kenapa aku harus menunggu berhari-hari kalau sesederhana ini pemecahannya? Aku mulai duduk. Ingin sekali aku segera memberitahu semua orang tentang penemuanku ini. Bahwa aku telah kembali seperti dulu lagi. Ingin segera kuludahi dokter yang membuatku menjadi bahan diskusi pelajaran dengan murid-muridnya sekalian.
Lho kok aku ada dua? Aku ini siapa? Siapa ini yang terbaring dengan selimut penuh darah? Bahkan pisau buah masih tergenggam di tangannya?
Kutundukkan muka dan kulihat genangan darah di bawah ranjang.
Sudah matikah aku?
Kutatap wajah si bocah yang masih memegangi ujung ranjang. Matanya masih sajar datar.
“Sudah kubilang jangan. Jadi hantu kau sekarang.”
Tidak aku belum mati.Aku ingin melihat dua berlianku beranjak dewasa. Aku ingin menikahkan mereka sendiri tanpa wali hakim.
“Mana bisa?” Katanya sambil beranjak pergi dengan bekas telapak kakinya yang penuh darah. Bayang-bayang tubuhnya mulai tampak legam disinar matahari jam 12 siang.
Sayup-sayup kudengar tangis istriku. Ia bersimpuh di kaki seseorang yang sudah sangat renta tapi masih kuingat tajam kata-katanya. Pakdheku datang membawa buah semangka dan petai cina.
“Aku tahu si Romli sakit dari teman sekantornya yang kemarin menikah dengan anak tetangga di desa. Katanya sakitnya betul-betul gawat. Begitu aku mendengar berita itu aku langsung naik bis kemari. Dari mantu tetanggaku itu pula aku dapat alamat rumah sakit ini.”
“Ada tumor di otaknya. Harus dioperasi kepalanya.”
“Mahalkah biayanya?”
“Dua puluh lima sampai tiga puluh juta katanya.” Katanya sambil terisak-isak.
“Darimana kami bisa mendapat uang sebanyak itu?”
Aku betul-betul malu mendengar istriku mengeluh pada orang yang pernah kutinggalkan begitu saja dua puluh lima tahun yang lalu. Dua puluh lima tahun tanpa secarik surat, telpon atau sedikitpun kabar.
“Kamu jangan khawatir nduk. Di belakang rumah ada I hektar tanah yang bisa kujual cepat untuk biaya operasi. Dulu aku ingin membangun masjid disitu sebagai bekalku kalau aku mati nanti. Sekarang, biar tanah itu buat Romli saja. Kalau masih kurang, ada kuda-kuda penarik delman sewaan yang bisa kujual. Jangan khawatir. Mana dokternya, aku ingin bicara supaya Romli bisa dioperasi secepatnya.”
Sesalku mendesak relung hati bagai belati membelah tajam kesadaran. Kutoleh kiri kanan. Anak itu berdiri dekat kursi putih depan kamar. Matanya menatap tajam padaku sambil tangannya memain-mainkan pisau buah yang tadi kugunakan. Ia beranjak pergi. Bayang-bayang tubuhnya semakin lama semakin kelam.
Andai saja aku sedikit bertahan.

15 Februari 2003

1 Comments:

Blogger Donz said...

Proyek lama Ry?
Akhirnya ada penyaluran jg yah?
see my blog as hell

2:53 PM

 

Post a Comment

<< Home